selingan kata

InsyaAlah dengan seiring waktu berlalu saya akan mencoba berusaha untuk memuat Artickel-Artickel serta perbahasan tentang agama ISLAM, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekurangan,, terimakasih kunjungannya,, semoga dapat bermanfaat,. ^_^

RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SAW

Assalamualaikum wr. wb
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Swt kita masih dapat merasakan betapa indah nya menghiurup udara ini yang merupakan salah-satu kenikmatan yang di berikan Allah Swt kepada kita. Dan Alhamdulillah juga berkat rahmat Allah Swt. Dan berbagai elemen yang membantu sehingga Penulis juga dapat menyelesaikan paper ini tentang RIWAYAT PERJALANAN KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD SAW.


 RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SAW

        Nabi Muhammad Saw. lahir pada tanggal 12 rabiul awal bertepatan dengan terjadinya perang tentara bergajah untuk menghancurkan ka’bah yang di pimpin oleh Abraham.  Ibu  nabi Muhammad Saw bernama Aminah dan ayah nya bernama Abdullah. Nabi Muhammad di lahirkan sebagai seorang yatim.
           Banyak kejadian-kejadian luar biasa terjadi pada saat nabi Muhammad lahir.  Seperti peristiwa padamnya api abadi di kerjaan rusia, dan penyerangan ka’abah oleh tentara begajah hancur oleh datangnya burung-burung yang di kirim oleh oemiik ka’abah, oelh karena pada tahun itu di sebut tahun gajah.
                Ayahanda nabi Muhammad Saw wafat pada nabi Muhammad masih dalam kandungan, kemudian setelah beberapa tahun nabi Muhammad lahir, menyusul ibunda nabi Muhammad Siti Aminah wafat . nabi Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya Abuthalib. Belum genap usia nabi Muhammad berusia delapan tahun kakek nabi Muhammad pun wafat. Setelah kakek nabi Muhammad wafat kemudian beliau dirawat oleh pamannya Abdul Muthalib dahn istrinya. Bersama putra Abdul Muthalib nabi Muhammad mulai mengembala beberapa waktu. Pada saat mengembala, malaikat Jibril menghampiri beliau sehingga beliau terkejut melihat makhluk yang sebelumnya tak pernah beliau lihat, dan pada saat itu malaikat Jibril di perintahkan oleh Allah Swt untuk membelah dada beliau dan dibuang segala sifat yang tidak baik dalam diri beliau.
        Nabi Muhammad dikenal dengan kebaikan akhidahnya oleh masyarakat sebagai seorang yang jujur (Al-Amin), sehingga ia menjadi salah satu kalifah dagang Khadijah. Dalam perjalanan pulang dari berdagang beliau melewati negeri Ad dan Tsamud. Kehinangan kematian yang menimpa kaum pembangkang itu mengundang perhatian beliau.
Suatu saat nabi Muhammad duduk di bawah pohon untuk beristirahat, Maisarah kebetulan sedang berada didekatnya. Seorang pendeta yang melihatnya mendekati Maisarah, ia datang seraya menanyakan namanya, kemudian ia berkata bahwasanya orang yang duduk di bawah pohon itu adalah seorang nabi yang telah ia baca tentangnya banyak kabar gembira di dalam Taurat dan Injil.
Pada saat nabi Muhammad dewasa, beliau kemudian melamar khadijah dan menikah pada usia 25 tahun sedangkan kadijah berusia 40 tahun. Nabi Muhammad Saw sangat menyayangi istrinya begitupun khadijah yang begitu memuliakan sang suami, dari perkawinan dengan Khadijah, Khadijah melahirkan 6 orang anak, 2 putra, Qasim dan Abdullah, 4 orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-laki Rasulullah meninggal sebelum beliau diutus menjadi Rasul.
          Ketika usia Rasulullah menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Ka’abah. , tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding Ka’abah mengalami kerusakan. Orang Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’abah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa. Mereka semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali ka’abah, diberitahukan pada semua pihak sebagai berikut, Dalam pembangunan kembali Ka’abah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini. Terlihat bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian. Nabi Muhammad Saw bersatu dengan orang-orang Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia memperoleh gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.
       Diriwayatkan pula bahwa nabi Muhammad Saw percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang memiliki arti “yang benar”.
          Pada saat usia Rasulullah usianya 40 tahun, ia sering menyendiri ke Gua Hira’ sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.
         Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika nabi Muhammad Saw sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:
          Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5) Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad Saw. Ketika itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan cemas Rasulullah pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya kepada sang istri. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Rasulullah mendatangi saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami nabi Muhammad Saw, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya. Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan nabi Muhammad Saw, dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al- Qur’an (bacaan).
        Selama tiga tahun pertama, Rasulullah hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya serta golongan masyarakat awam, antara lain Khadijah, Ali, Zaid bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan secara terbuka agama Islam. Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Amr bin Nufail masuk Islam dan bergabung membela nabi Muhammad Saw.
      Tahun kesepuluh sesudah Kenabian. Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa nabi Muhammad Saw. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan Am Al-Huzn (Tahun Duka cita). Bukan hanya Rasulullah yang terpukul hatinya, Fatimah, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu.Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya, ‘’Ayah, kemana Ibu?’’ Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya. Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu nabi Muhammad Saw, akhirnya Rasulullah berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi Muhammad Saw. Di bulan Robi’ul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Rasulullah terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Rasulullah Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit, dan lanjut usia.
       Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil. kemudian Jibril datang memberitahu Rasulullah tentang rencana kejam kaum kafir itu. Ali bersedia berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Rasulullah, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Rasulullah, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Rasulullah, dialah orang yang rela berkorban untuk Rasulullah, Ali, sekali lagi Ali. Kepadanya Rasulullah berkata,’’Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya, Saya harus berhijrah ke Yastrib”. Ali menempati ranjang Rasulullah sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah Rasulullah dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Rasulullah. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang menimbulkan suara gaduh. Serentak Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu berkata dengan sangat tenang,Apa yang terjadi ? Mereka menjawab,Kami mencari Muhammad. Di mana dia? Ali berkata,Apakah anda menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali kepada Anda? Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah. Rasululah telah pergi jauh di luar pengetahuan mereka.
      Rasulullah tiba di Quba tanggal 12 Rabiu’l Awwal, dan tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Penduduk Yastrib yang kemudian berganti menjadi nama Madinah. Mereka menyambut kedatangan nabi Muhammad Saw dengan mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah negara Islam pertama kali didirikan. Nabi Muhammad Saw menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya untuk Tuhannya, islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad Saw yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan kafir Quraisy dengan Iman yang membara.
        Banyak juga peristiwa yang menggembirakan, misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Rasulullah, perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Ka’abah di Makah. Selain serangan dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda, walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.
Kini, di Shafa, laki-laki yang  telah membuat sejarah itu telah kembali, berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih, kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah.
     Tahun kesebelas hijriah Rasulullah menunaikan Haji Wada’ lebih dari 10.000 orang termasuk semua istri Rasulullah berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Rasulullah melakukan perjalanan ke Makkah, dan sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Rasululah Saw. Matahari tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang mengelilinginya.Rasulullah memulai pidatonya, Rasulullah berkata,Tahukah kalian, bulan apa ini ?
    Mereka serentak menjawab,Bulan Haram …..
    Ayyuhan Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku  tidak tahu, mungkin aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini, untuk selama-lamanya... Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini. Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya.
      Akar-akar syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.








CARA MENUJU AKHIRAT


            Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

Pertama,
Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

Kedua,
membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

Ketiga,
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu shubuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Keempat,
jaga shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha.
Kelima
jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.

Keenam
jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, ampuni dosa dan sayangi dia ya
Allah”.

Ketujuh, amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah
Pesan nan indah ini semoga bukan hanya terasa indah ketika dibaca, yaa Allah mudahkan kami untuk mampu menghiasi diri dengan keindahan amal shalih ini hingga bila saatnya tiba akhirat menjadi tempat kehidupan nan hakiki, tempatkan kami dalam naungan keridhaan-MU. Allahumma amiin.
Hani Hendayani, “Karena Bidadari Ada di Bumi”



RAMBU-RAMBU PERJALANAN MENUJU KAMPUNG AKHIRAT

                Mudik yang selalu kita lakukan adalah salah satu bagian kecil dari perjalanan pulang kita ke kampung halaman abadi, yaitu kampung akhirat. Jika perjalanan mudik saja kita persiapkan dengan matang, maka sudah selayaknya perjalanan pulang ke kampung akhirat harus lebih kita persiapkan dengan sebaik-baiknya. Di dunia ini, kita semua adalah perantau, kita semua adalah musafir. Tidak selamanya kita akan berdiam di dunia ini. Sebagaimana telah digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kita di dunia ini laksana seorang musafir yang berteduh di bawah rindangnya sebuah pohon yang kemudian akan berlalu untuk melanjutkan perjalanan. Maka Rasulullah SAW berpesan, “Kun fid dunya ka annaka ghoriibun aw 'aabirus sabiil - Jadilah dirimu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir”. (HR. Bukhori).         
                Itulah gambaran kehidupan kita di dunia. Dunia yang kita tempati saat ini hanyalah persinggahan sementara. Jangan sampai kita terkecoh akan keindahan dan kenikmatannya sehingga melupakan kita akan kampung akhirat. Agar perjalanan kita di dunia menuju kampung akhirat bisa sukses maka setidaknya ada beberapa rambu-rambu yang harus senantiasa kita patuhi, yaitu:
1.      Menetapkan Tujuan.
Sebuah perjalanan akan sukses jika pertama kali kita menetapkan suatu tujuan yang jelas. Jika kita berenacana mudik tetapi tujuan kita tidak jelas ke mana kita akan mudik, maka jangan harap kita bisa sampai pada tempat yang kita tuju, karena dari awal memang kita tidak punya tujuan. Demikian halnya, jika tujuan perjalanan hidup kita tidak jelas jangan harap kita bisa selamat meniti perjalanan ini hingga akhir. Lalu apa tujuan hidup kita yang sebenarnya? Tujuan hidup kita adalah Ridho Allah (mardhotillah). Dan akhir dari perjalanan panjang kita di dunia adalah kampung akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (QS Al-Baqoroh[2]:207).

2.      Mempersiapkan Bekal. Bekal,
Apapun bentuknya sangat diperlukan dalam sebuah perjalanan. Saat kita mudik ke kampung halaman misalnya, sudah pasti kita akan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya juga membawa oleh-oleh menarik untuk kerabat kita di kampung halaman. Kita pasti tidak mau gagal dalam perjalanan hanya karena kita kehabisan bekal.Perjalanan kita menuju kampung akhirat jauh lebih panjang dari mudik yang selama ini kita lakukan. Perjalanan kita ini pun dalam rangka menemui dzat yang maha mulia, ialah Allah SWT maka oleh-oleh yang harus kita bawa dan kita persembahkan kepadaNYA pun harus jauh lebih spesial. Maka logikanya, bekal dan oleh-oleh yang harus kita siapkan juga harus lebih banyak dan lebih berbobot di mata Allah. Apa bekal yang paling baik di mata Allah? Bekal itu bukan harta benda berupa emas, permata maupun dolar amerika, bukan pula tahta, jabatan, pangkat dan kedudukan di mata manusia, bukan pula wanita yang selalu kita puja, bukan pula ketampanan dan kecantikan yang biasa kita banggakan. Bekal terbaik di mata Allah adalah taqwa. Allah berfirman,“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqoroh[2]:197). Taqwa adalah manifestasi dari amal perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam setiap amal perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka senantiasa hati-hati dalam ucapan sehingga tidak pernah menyakiti Allah, Rasul dan manusia. Hanya ucapan-ucapan yang baik yang keluar dari mulutnya. Sebagaiamana pesan Rasulullah SAW, Qul khoiran aw liyasmut, katakan yang baik atau lebih baik diam. Mereka senantiasa hati-hati dalam makanan, sehingga tidak pernah ada makanan subhat yang masuk dalam perutnya apalagi yang haram. Pendeknya, mereka senantiasa hati-hati dalam mengerjakan setiap perintah dan larangan Allah dan RasulNYA, sehingga Allah senantiasa Ridho terhadap setiap amal yang mereka kerjakan. Dengan taqwa tersebut insya Allah kita akan senantiasa istiqomah menjalani hidup. Tidak mudah futhur di saat-saat dalam kondisi lingkungan yang buruk. Kita akan tetap bisa mewarnai lingkungan dan membawanya ke arah kebaikan (bi'ah ash-sholihah). Akhirnya kita juga bisa terus tetap semangat mengobarkan ruh dakwah di mana pun kita berada.

3.      Berpedoman pada Petunjuk.
Petunjuk mutlak diperlukan dalam setiap perjalanan, apapun nama dan jenis perjalanan tersebut. Seorang musafir, jika ingin selamat sampai tujuan pasti membutuhkan petunjuk arah berupa kompas, peta ataupun tanda alam. Jika petunjuk tersebut tidak ada, atau ada petunjuk tetapi tidak mau berpedoman padanya niscaya mereka akan tersesat sehingga tidak bisa sampai pada tempat yang mereka tuju. Demikian halnya dengan perjalanan panjang kita menuju kampung akhirat. Perjalanan tersebut justru lebih pelik dan berliku dari pada perjalanan-perjalanan yang kita lakukan selama di dunia.
                 Oleh karena itu, mutlak kita memerlukan petunjuk yang bisa mengantarkan kepada tujuan akhir kita. Petunjuk itu adalah Al Qur'an dan as-Sunnah. Rasulullah SAW., bersabda “Aku telah meninggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Muslim). Al Qur'an dan As-Sunnah, inilah petunjuk yang pasti benar. Petunjuk yang langsung disampaikan oleh Dzat yang Maha Benar, dzat yang Maha Pencipta.

4.      Memiliki Teman.
Teman dalam perjalanan sangat diperlukan agar bisa saling menjaga dan mengingatkan atau mungkin hanya sebagi teman ngobrol. Pastinya teman di sini adalah teman yang benar-benar halal secara syar'i. Tidak boleh seorang perempuan bepergian tanpa disertai muhrimnya. Tujuannya tidak lain, untuk menghindari bahaya yang tidak diinginkan.
                Dalam perjalanan panjang ini, kita pun membutuhkan teman yang baik (sholih). Dengan adanya teman yang sholih tersebut kita bisa saling menjaga dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran dan taqwa. Teman di sini bisa dipahami secara luas meliputi banyak hal, misalnya teman sejati dalam hidup kita (suami/istri), teman dalam sebuah keluarga (anak, saudara), teman dalam lingkungan tetangga, teman karib dalam medan dakwah, teman dalam dunia profesi dan sebaginya. Semua teman tersebut akan menentukan kualitas diri kita. Seseorang bisa dilihat dari keadaan teman-temannya. Itulah diantaranya beberapa rambu untuk persiapan mudik ke kampung akhirat.
                Oleh karena itu, Mudik idul fitri yang setiap tahun kita lakukan hendaknya jangan hanya dijadikan rutinitas tanpa makna bahkan terkesan dipaksakan. Jika memang benar-benar tidak bisa, tidak perlu kita memaksakan diri atau bahkan menghalalkan segala cara hanya demi untuk pulang mudik. Sehingga boleh jadi karena suatu hal kita tidak sampai ke kampung halaman tetapi justru sampai ke kampung akhirat, padahal bekal akhirat kita belum cukup. Naudzubillah. Maka dari itu, selama kita mudik dan saat kita bersama keluarga jangan pernah terlena, tetaplah istiqomah dalam ketaatan kepadaNYA.
                Bahkan seharusnya dengan rutinitas mudik tersebut hendaknya bisa memperbarui ingatan kita akan Mudik ke kampung akhirat yang pasti setiap orang akan kita tuju, sehingga kita bisa semakin mempersipkan diri dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Tetapkan tujuan, perbanyak bekal, bawa petunjuk dan cari teman yang sholih, insya Allah kita akan selamat sampai tujuan akhir. Wallahu a'lam bish-showab
Redaksi, dari berbagai sumber


DAHSYATNYA MANFAAT PUASA SENIN KAMIS


Assalamu'alaikum wr.wb.,


Saudara yang dirahmati Allah, tadzkirah kita hari ini membahas mengenai kehebatan dibalik puasa Senin Kamis. Semoga bermanfaat dan menjadikan penyemangat bagi kita semua untuk bisa mengamalkan salah satu Sunnah Rasulullah SAW.


 Dahsyatnya Puasa Senin Kamis.

Siapa sih yang tidak ingin awet muda, bebas penyakit, sekaligus selamat dunia akhirat ? Kalau kita ingin mendapatkan semua itu, cobalah berpuasa Senin-Kamis secara teratur.

Kebanyakan dari kita tentunya pernah mendengar puasa Senin Kamis sebagai puasa sunnah di dalam Islam. Namun, berapa yang benar-benar berusaha merutinkan puasa tersebut ?

Kalau hari itu kebetulan ada acara pengajian dan makan-makan, bukannya lebih enak makan-makan ketimbang puasa sunnah ? Kalau pagi itu kebetulan tidak sempat sahur, bukannya lebih nyaman absen puasa dulu ? Bagaimanapun, puasa Senin Kamis itu hanyalah 'sunnah' bukan ?

Tak banyak dari kita yang tahu benar hikmah puasa Senin Kamis dari segi spiritual, kesehatan dan keutamaannya di hadapan Allah. Karena itu, dalam rubrik tadzkirah IMSIS kali ini, ada baiknya kita mengupas hikmah puasa Senin Kamis supaya kita lebih semangat menjalaninya.

Alasan utama mengapa puasa Senin Kamis disunahkan dalam Islam ialah karena Rasulullah sering berpuasa di kedua hari tersebut.

Tapi, apa keutamaan Senin dan Kamis ?

Sehubungan dengan hal ini ada 2 hadis dari Rasulullah yg berkenaan dengan pemilihan hari Senin dan Kamis. 

Yang pertama, dalam Hadist Riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan bahwa semua amal dibentangkan di hari Senin dan Kamis. Karena itu, sebagai orang beriman, sungguhlah baik bila pada saat malaikat melaporkan amalan kita itu kita tengah berpuasa.

Yang kedua, hari Senin Kamis adalah hari istimewa karena pada hari itulah Rasulullah dilahirkan, menjadi rasul dan mendapat wahyu (HR Muslim).

Jadi terlihat disini bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari istimewa dari sisi religius.

Dari sisi logika, bisa dilihat bahwa hari Senin dan Kamis membagi satu 'minggu' menjadi dua bagian yang hampir sama rata. Jadi  kentara sekali bahwa puasa Senin Kamis mempunyai fungsi maintenance atau pemeliharaan. Analoginya mungkin sama dengan pembagian waktu minum obat kala kita sakit. Tentu kita ingat, kala kita sakit, kita sering disuruh minum obat 2x sehari, yaitu 1x di pagi hari dan 1x di malam hari. Kalau dilihat, waktu2 dimana kita disuruh minum obat 2x tersebut membagi kurang lebih hari itu menjadi 3 bagian yang sama. Hal ini berlaku juga dengan Senin dan Kamis yang membagi satu minggu menjadi dua bagian.

Dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis, secara tidak langsung kita melakukan maintenance untuk diri kita secara rutin baik dari segi spiritual maupun jasmani.

Lalu, apakah keutamaan puasa yang berkelanjutan seperti puasa Senin Kamis ini ?

Keutamaan yang pertama ialah karena puasa Senin Kamis melatih kita secara teratur untuk menghindarkan diri dari pekerjaan dosa. Kalau ada latihan efektif untuk 'anger management' atau latihan kesabaran, maka itulah puasa. Karena itu, cocoklah jika dikatakan bahwa puasa adalah zakat jiwa, dimana pada saat puasa, kita membuang perangai buruk. Sehingga sesudah puasa, emosi dan spiritual kita menjadi lebih bersih.

''Segala sesuatu itu ada zakatnya,sedang zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu separo kesabaran''.(HR. Ibnu Majah).

Dengan menghilangnya perangai buruk kita, minimal seminggu dua kali, maka bisa juga dikatakan bahwa ''Puasa adalah benteng yg membentengi seseorang dari api neraka yg membara''.{HR.Ahmad dan Baihaqi}.

Keutamaan yang kedua ialah karena puasa Senin Kamis bisa meningkatkan amalan kita. Biasanya, seseorang yang kekenyangan dan keenakan cenderung malas beribadah. Puasa menjadikan kita lebih produktif dalam beribadah karena selain kita tidak lagi dalam posisi keenakan, orang yang berpuasa juga cenderung ingin beribadah ekstra.  Disamping itu, puasa bisa melembutkan hati. Ini karena dengan puasa, kita cenderung lebih berempati dengan orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Karena itu, puasa bisa menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan lebih bertakwa.

Tidaklah salah kalau dalam Quran disebutkan bahwa puasa diperintahkan pada kita dan orang2 sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertakwa (Al Baqarah 183).


Selain dari keuntungan dari segi emosional spiritual seperti yang dijelaskan diatas, puasa juga memiliki keutamaan dari segi kesehatan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini sudah ada banyak riset yang menyimpulkan bahwa puasa yang teratur itu baik untuk kesehatan.

Manfaat kesehatan dari puasa yang paling populer adalah puasa bisa dibilang sebagai cara ampuh untuk membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita. Dalam Islam dan bidang kedokteran, dianjurkan untuk tidak makan berlebihan, karena makanan yang berlebih dan tidak sehat bisa menimbulkan penyakit. Lihat saja masyarakat di negara makmur yang mana makanan berlimpah. Selain tingkat obesitas tinggi, masyarakat negara-negara tersebut banyak yang mengidap diabetes dan jantung yang notabene sering dijuluki sebagai penyakit orang kaya.  Dengan puasa Senin Kamis, paling tidak, dalam dua kali seminggu, kita membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita.

Manfaat lain dari puasa ditinjau dari segi kesehatan yang juga banyak dipopulerkan adalah fungsi pembersihan dan penyembuhan. Dengan istirahatnya sistem
pencernaan kita selama puasa, maka memungkinkan sistem2 lain di tubuh kita untuk bekerja dengan lebih baik, misalnya sistem imunitas. Inilah sebabnya mengapa orang yang sakit atau binatang yang terluka suka menolak makan. Andaikata kita tidak sedang sakit pun, polisi imunitas bekerja keras saat kita puasa. Jika polisi-polisi ini mendeteksi hal-hal yang kira-kira nanti bisa membuat kita sakit atau hal-hal abnormal, seperti tumbuhnya kista atau tumor, maka pada hari kita puasa, mereka bisa memberantasnya.

Sistem detoksifikasi tubuh juga bekerja lebih lancar jika kita tidak menerima asupan lagi. Disini, mungkin kita bisa membayangkan sistem pembersihan tubuh kita seperti pegawai yang kewalahan mengerjakan tugasnya kalau tugas datang bertubi2. Akibatnya, fungsi pembersihan tubuh tidak terkerjakan dengan maksimal dan sangat mungkin luput mengeliminasi beberapa zat-zat yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan berhentinya asupan, maka tugas dari sistem pembersihan tubuh kita menjadi lebih manageable sehingga kinerjanya menjadi lebih maksimal.

Sistem peremajaan juga bekerja dengan maksimal saat kita puasa karena Allah mendesain tubuh kita untuk mengeluarkan hormon yang erat kaitannya dengan anti-aging kala kita puasa. Karena itu tidaklah mengherankan jika pada suatu eksperimen ditemukan bahwa cacing yang berpuasa bisa hidup 19 generasi lebih lama dibanding cacing yang tidak berpuasa. Kalau ada obat anti aging yang ampuh, itulah puasa. Bisa jadi puasa Senin Kamis secara teratur nantinya menjadikan kita awet muda dan bebas penyakit di hari tua.

Lalu bagaimana dengan orang yang sering mengeluhkan tidak bisa bekerja karena kelaparan dan lemas pada saat puasa seperti yg terlihat jelas di Indonesia dimana kinerja orang menjadi turun saat puasa? Jika hal ini terjadi,  bisa jadi kelaparan itu terjadi karena kita tidak bekerja dengan baik atau kurang konsentrasi. Yang jelas, puasa tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap otak dan daya pikir kita. Malahan, sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa puasa malah meningkatkan daya pikir kita.

Masih banyak lagi manfaat kesehatan dari puasa,misalnya puasa bisa  menghindari atau mengurangi diabetes dan penyakit vascular seperti jantung. Yang jelas, kala Sang Pencipta kita mewajibkan kita puasa minimum setahun sekali selama Ramadhan , Dia tahu bahwa puasa itu baik bagi kita. Bayangkan dahsyatnya puasa kala kita bisa merutinkannya seminggu dua kali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Walaupun begitu, perlu diingat dan digarisbawahi bahwa semua amal tergantung niat. Jika niat puasa kita hanyalah dari segi kesehatan, maka itulah yang kita dapat. Namun kala niat puasa kita adalah dalam rangka meningkatkan kualitas spiritualitas kita dan mendekatkan diri pada Allah maka tidak hanya kita mendapat fisik yang prima, namun juga ridho Allah dan keselamatan dunia akhirat. Sebagai muslim, ridha Allah terletak di atas segala-galanya. Allah sangat menyukai orang yang berpuasa karena Allah, sehingga Allah menjanjikan gerbang khusus di surga bagi yang gemar berpuasa, yaitu Ar-Rayyan (H.R Muslim).

Maka dari itu, marilah kita galakkan dan rutinkan puasa-puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis dalam rangka meraih ridha Allah dan salah satu cara untuk meraih jannahNya. Insya Allah dengan puasa yang rutin, kita tidak hanya mendapat balasan di akhirat nanti, tetapi kita juga mendapat keuntungan di dunia berupa kesehatan yang prima dan daya pikir yang jernih. 


Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Download Kumpulan Ebook Terbaru Gratis

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger